Aku Tak Seberani Itu
Di tengah landasan hidup ini, aku berdiri, serupa seperti sehelai daun yang gemetar di hadapan badai. Tak kunjung mampu menemukan keberanian yang menghunjam dalam diri, melainkan hanya bayangan lemah yang terpecah di antara penantian dan keraguan. Seperti embun yang rapuh menyelubungi rerumputan, aku, bagai titik kecil dalam lautan tak berujung, meratapi ketidakmampuanku.
Tak sepadu lautan dalam kekuatan kata-kata, tak serempak gemuruh gunung dalam tindakan nyata, aku hanyalah sosok yang terpinggirkan dalam sepi. Dalam keretakan hati, aku menyaksikan keagungan Sutan Syahrir yang merangkak tinggi, memandang langit dengan tegas, sementara aku terhempas dalam ketidakberdayaan.
Tiada senyawa dalam ragaku yang seolah-olah kaya akan keberanian seperti Ir. Soekarno, yang menggemparkan dunia dengan keberaniannya yang tiada tara. Aku hanyalah titik lemah yang terhanyut dalam gelombang kecil kehidupan, tak mampu menyuarakan seruan revolusi yang menggema di hati nuraniku.
Dan bagaimana aku bisa berdiri seteguh Jenderal Besar Sudirman, yang rela menyerahkan segalanya demi tanah air? Aku, yang tak mampu melampaui batas ketakutan diri sendiri, bagai kumbang kecil yang terperangkap dalam jaring-jaring ketidakpastian. Pengorbanannya begitu besar, sedangkan aku, hanya bisa menatap dalam kekosongan, kehilangan arah dalam kehampaan diri sendiri.
Aku hanyalah diriku sendiri, dalam kelemahan dan keterbatasan yang melingkupiku. Tak ada panggilan juang yang menggebu dalam hatiku, tak ada semangat kebangsaan yang mengalir deras dalam nadi. Hanya aku, dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaan yang menyelimuti diriku, menanti dalam kesendirian yang terabaikan.
Aku merenungi kata-kata bijak Sutan Syahrir, "Hidup yang tidak dipertaruhkan tak akan dimenangkan," dan merasakan getaran maknanya merayap dalam diriku. Betapa benar katanya, bahwa kehidupan yang tidak dijalani dengan penuh pengorbanan dan tekad, tidak akan pernah mencapai kemenangan yang sesungguhnya.
Namun, di antara kegelapan yang menyelimuti diriku, masih tersisa semangat kecil yang berdentang dalam lubuk hatiku. Meskipun tak sekuat gelombang yang menghantam karang, semangat itu tetaplah ada, mengingatkanku bahwa di balik ketidakberdayaan, masih ada cahaya kecil yang menanti untuk disulut.
Dalam dunia yang keras ini, aku mungkin hanya sebutir debu yang terbawa angin, namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyerah begitu saja. Meskipun aku tidak mampu mengguncang dunia dengan kekuatan atau berkorban nyawa dalam pertempuran, aku akan tetap berusaha menjalani hidup dengan penuh keikhlasan dan keberanian, sesuai dengan kadar yang tersemat dalam diriku.
Komentar
Posting Komentar